MAKALAH PERKEMBANGAN PERTANIAN DI FILIPINA


  • BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara astronomis, Filipina terletak antara 6°LU – 19°LU dan 116°BT – 126°BT. Berdasar-kan letak geografisnya, negara Filipina ber-batasan dengan Samudra Pasifik di sebelah Utara dan Timur, berbatasan dengan Laut Cina Selatan di sebelah Barat, dan berbatasan dengan Laut Sulawesi di sebelah Selatan. Filipina merupakan sebuah negara kepulauan yang terdiri atas 7.107 pulau.
Di antara jumlah pulau tersebut terdapat dua pulau yang besar yaitu Pulau Luzon (sebelah Utara) dan Pulau Mindanau (sebelah Selatan). Berdasarkan letak lintangnya Filipina mempunyai iklim tropis (panas) yang dipengaruhi oleh angin monsun. Di Filipina Utara dan Tengah sering terjadi badai tropis (angin taifun) yang bertiup dari Samudra Pasifik ke arah Laut Cina Selatan. Kondisi perekonomian Filipina saat ini, mengalami pertumbuhan ekonomi moderat, yang banyak disumbangkan dari pengiriman uang oleh pekerja-pekerja Filipina di luar negeri dan sektor teknologi informasi yang sedang tumbuh pesat.
Filipina merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak gunung api sebagai rangkaian Pegunungan Sirkum Pasifik. Kondisi tanah yang subur sangat menunjang kegiatan agraris yang meliputi bidang pertanian (berupa padi, jagung, dan abaca atau serat manila), bidang perikanan dan kehutanan (hampir separuh wilayah daratannya berupa hutan). Selain itu sungainya yang pendek-pendek dengan aliran yang deras dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Di Filipina terdapat pusat penelitian padi internasional (International Rice Research Institute/IRRI) yang berhasilkan menemukan bibit padi unggul. Maka dari itu, padi adalah hasil pangan utamanya. Tanaman lain yang dihasilkan oleh Filipina adalah pisang dan nanas.
 
B. Rumusan Masalah
a.       Bagaimanakah model pertanian di Filipina?
b.      Bagaimana Pengaruh Model Pertanian di Filipina terhadap kondisi sosial ekonomi?
c.       Bagaimana perkembangan kemajuan teknologi di Filipina?

C. Tujuan
1.     Untuk mengetahui bagaimanakah model pertanian di Filipina
 .  Untuk mengetahui bagaimana Bagaimana Pengaruh Model Pertanian di Filipina terhadap kondisi sosial ekonomi
   -Untuk mengetahui bagaimana perkembangan kemajuan teknologi di Filipina

BAB II
PEMBAHASAN

A. Model Pertanian Di Filipina
1.      Metode SALT
Teknik SALT diyakini mampu meminimalkan erosi, membantu mengembalikan struktur dan kesuburan tanah, meningkatkan produksi tanaman, mudah dipraktekkan karena menggunakan alat sederhana, membutuhkan tenaga yang rendah sehingga cocok untuk petani berlahan sempit, dan tidak membutuhkan modal besar. Setidaknya, ada 10 langkah untuk menerapkan teknik menata lahan miring dengan metode SALT, berikut langkah-langkahnya. Metode Sloping Agriculture Land Technology (SALT) merupakan salah satu teknik untuk menata lahan miring yang diperuntukan bagi kegiatan pertanian. Selama ini pemanfaatan lahan miring dalam bentuk kebun dan sawah berundak diketahui memiliki resiko erosi dan tanah longsor yang tinggi.
Sehingga banyak petani enggan memanfaatkan lahan miring untuk tanaman pangan, mereka hanya memanfaatkannya untuk tanaman keras.
Mindanao Baptist Rural Life Center (MBRLC) adalah sebuah organisasi non-profit yang didedikasikan untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan di Filipina. The MBRLC berupaya untuk mengembangkan pertanian berkelanjutan untuk kepentingan Filipina pedesaan, menerapkan teknik pertanian berkelanjutan yang efektif untuk daerah dataran tinggi Filipina, memberikan pendidikan dan pelatihan bagi petani Filipina, dan menumbuhkan iman Kristen dalam Allah yang penuh kasih dan bijaksana. The MBRLC telah berasal sejumlah teknik pertanian berkelanjutan, termasuk Miring Lahan Pertanian Teknologi (SALT), yang membahas masalah erosi yang disebabkan oleh deforestasi dengan menggabungkan konservasi tanah dengan produksi pangan, dan makanan selalu Di Rumah (IMAN) berkebun, yang menggunakan serangkaian tempat tidur taman dibesarkan di plot 100 meter persegi tanah untuk menyediakan sebuah keluarga dengan enam dengan sayuran sepanjang tahun. Di situs demonstrasi sembilan belas hektar di Davao del Sur, yang MBRLC memberikan pelatihan pengembangan masyarakat, pertanian berkelanjutan, kesehatan pedesaan, dan nilai-nilai Kristen. Center Baptis luar Program Pelatihan Sekolah (BOOST) Dari bertujuan untuk menyediakan orang-orang muda yang tinggal di daerah pedesaan dengan nilai-nilai dan keterampilan yang diperlukan untuk memimpin kehidupan yang produktif dan memuaskan. Peserta BOOST tinggal di Pusat dan menerima pelatihan dalam teknik pertanian berkelanjutan, kesehatan, pengembangan masyarakat, Study Bible, dan kehidupan Kristen. Saat ini, lebih dari 120 anggota staf MBRLC bekerja di lokasi demonstrasi dan di desa-desa setempat. Pusat menerima sekitar 20.000 pengunjung, termasuk 2.000 peserta, per tahun. Selain beberapa proyek satelit di seluruh Mindanao, MBRLC telah menjalin hubungan dengan organisasi internasional lain yang bekerja pada proyek-proyek pembangunan berkelanjutan di seluruh Asia.

2.      Metode SRI
Budidaya padi organic metode SRI megutamakan potensi local dan disebut pertanian ramah lingkungan, akan sangat mendukung terhadap pemulihan kesehatan tanah dan kesehatan pengguna produknya.  Pertanian organic pada prinsipnya menitikberatkan prinsip daur ulang hara melalui panen dengan cara mengembalikan sebagian biomassa ke dalam tanah dan konservasi air serta mampu memberikan hasil yang lebih tinggi dibandiingkan dengan metode konvensional.

3.      Inovasi Metode SRI
SRI adalah teknik budidaya padi yang mamupu meningkatkan produktifitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsure hara, terbukti telah berhasil meningkatkan produktifitas padi sebesar 50%, bahkan dibeberapa tempat mencapai lebih dari 100%.
Metode ini pertama kali ditemukan secara tidak disengaja di Madagaskar antara tahun 1983-1984 oleh Fr. Henri de Laulianie, SJ, seorang Pastor Jesuit asal Prancis yang lebih dari 30 tahun hidup bersama petani-petani di sana.  Oleh penemunya, metodologi ni selanjutnya dalam bahasa Prancis dinamakan le System de Riziculture Intensive disingkat SRI.  Dalam bahasa Inggris popular dengan nama System of Rice Intensification, disingkat SRI.
Tahun 1990 dibentuk Assosiation Tefy Saina (ATS), sebuah LSM Malagasy memperkenalkan SRI.  Empat tahun kemudian, Cornell International Institution for Food, Agruculture and Development  (CIIFAD), mulai bekerja sama denga Tefy Saina untuk memperkenalkan SRI di sekitar Ranomafana National Park di Madagaskar Timur, didukung oleh US Agency for Internatioanl Development, SRI telah diuji Cina, India, Indonesia, Filipina, Sri Lanka, dan Bangladesh dengan hasil yang positif. SRI menjadi terkenal di dunia melalui upaya dari Norman Uphoff (Director CIIFAD).  Pada tahun 1987, Uphoff mengadakan persentase SRI di Indonesia yang merupakan kesempatan pertama SRI dilaksanakan di luar Madagaskar. Hasil Metode SRI sangat memuaskan.  Di Madagaskar, pada beberapa tanah tak subur yang produksi normalnya 2 ton/ha, petani yang menggunakan SRI memperoleh hasil panen lebih dari 8 ton/ha, beberapa petani memperoleh 10 -15 ton/ha, bahkan ada yang mencapai 20 ton/ha.  
Metode SRI minimal menghasilkan panen dua kali lipat dibandingkan metode yang biasa dipakai petani.  SRI  minimal menghasilkan panen dua kali lipat dibandingkan dengan metode yang biasa dipakai petani.  Hanya saja diperlukan pikiran yang terbuka untuk menerima metode baru dan kemauan untuk bereksperimen.  Dalam SRI tanaman diperlakukan sebagai organisme hidup sebagaimana mestinya, bukan diperlukan seperti mesin yang dapat dimanipulasi.  Semua unsur potensi dalam tanaman padi dikembangkan dengan cara memberikan kondisi yang sesuai dengan pertumbuhannya.

Prinsip-prinsip Budidaya padi Organik Metode SRI
Prinsip-prinsip Budidaya padi Organik Metode SRI, yakni :
Tanaman bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai (bus) ketika bibit masih berdaun 2 helai Bibit ditanam satu pohon perlubang dengan jarak 30 x 30, 35 x 35 atau lebih jarang. Pindah tanam harus sesegera mungkin (kurang dari 30 menit) dan harus hati-hati agar akar tidak putus dan ditanam dangkal
Pemberian air maksimal 2 cm (macak-macak) dan periode tertentu dikeringkan
sampai pecah (Irigasi berselang/terputus)
Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari Sedapat mungkin menggunakan pupuk 0rganik (kompos atau pupuk hijau)

Manfaat  Sistem SRI
Secara umum manfaat dari budidaya metode SRI adalah sebagai berikut :
Hemat air (tidak digenang), Kebutuhan air hanya 20 – 30% dari kebutuhan air untuk cara konvensional Memulihkan kesehatan dan kesuburan tanah, serta mewujudkan keseimbangan ekologi tanah Membentuk petani mandiri yang mampu meneliti dan menjadi ahli di lahannya sendiri. Tidak tergantung pada pupuk dan pestisida kimia buatan pabrik yang semakin mahal dan terkadang langka Membuka lapangan kerja di pedesaan, mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan keluarga petani Menghasilkan produksi beras yang sehat rendemen tinggi, serta tidak mengandung residu kimia Mewariskan tanah yang sehat untuk generasi mendatang.

B. Pengaruh Model Pertanian di Filipina terhadap kondisi sosial ekonomi
 Produk utama pertanian di Filiphina adalah beras, yang digunakan untuk konsumsi lokal tidak untuk di ekspor. Jumlah beras yang dihasilkan sekitar setengah dari hasil pertanian domestik. Seperempatnya berasal dari jagung.
Maka produk-produk ekspor pertanian lainnya yaitu kelapa dan gula hanyalah seperempat dari total seluruh panen. Dalam bidang impor, satu-satunya pengeluaran negara terbesar adalah untuk minyak bumi dengan perhitungan hampir sepertiganya. Dilihat dari latar belakang sejarah Filiphina, pada masa kolonial Spanyol di Filiphina, Spanyol tidak dapat menjadikan Filiphina sebagai penghasil rempah-rempah, karena kondisi alam Filiphina sendiri bukan penghasil rempah-rempah, tetapi pada masa penjajahan Spanyol di Filiphina hanya menjadi pusat transit perdagangan Asia dan Eropa. Pada masa kepemimpinan presiden kedua Filiphina, negara ini mulai meningkatkan produksi pertanian berupa bahan pangan beras, dimana Presiden Elpidio Quirino membentuk Bank Perkreditan bagi pertanian dan membantu para petani dalam memasarkan hasi panennya. Ini menjadi awal perkembangan produksi bahan pangan di Filiphina, yang selanjutnya semakin berkembang setelah Filiphina tergabung dalam ASEAN dan Filiphina menjadi negara penghasil dan pusat penelitian pengembangan padi untuk produksi bahan pangan bagi negara-negara di ASEAN.
Tetapi total hutang luar negeri Filiphina sekitar 27 triliun dolar, dengan rata-rata hutang perkapita sebesar 500 dolar, jumlah ini sama dengan pendapatan nasional (GNP) setiap orang dalam satu tahun. Ini masih belum memberikan surplus bagi pembangunan di Filiphina, karena belum ada jaminan bagi warga negara untuk mendapatkan kesejahteraan dari pendapatan yang dihasilkan setiap warga negara Filiphina. Oleh karena itu, sampai saat ini program pembangunan di Filiphina masih dalam kategori masa perkembangan dan masuk sebagai negara berkembang sebab pendapatan nasional setiap warga negara Filiphina per tahun masih hanya menutupi total hutang luar negeri Filiphina.

C. Perkembangan Kemajuan Teknologi Di Filipina
Filipina memiliki kuantitas dan kualitas tenaga peneliti ilmiah yang berkecimpung di berbagai disiplin ilmu, terutama di bidang manajemen dan agribisnis. Beberapa lembaga penelitian dan riset diantaranya DOST (Department of Science and Technology) yaitu Pusat Riset dan Pengembangan Teknologi (The Na­tional Science Development Board/NSDB) yang memba­wahi unsur‑unsur swasta dan beberapa instansi lainnya yang membantu pekerjaan pemerintah. selain mengadakan penelitian dan pengembangan juga melakukan pengembangan terhadap tenaga kerja dan teknologi serta pendidikan dengan menitik berat­kan pada sumber ilmu pengetahuan dan sumber daya alam yang erat kaitannya dengan bidang ekonomi maupun sosial budaya. Filipina mempunyai sumber daya alam yang cukup potensial yaitu perak, nikel, emas, chrome, bijih besi, batu bara, serta bijih air raksa dan termasuk peringkat 10 besar pengekspor tambang di dunia.


Saat ini Filipina telah melakukan pengembangan teknologi berupa :
a.      Bidang Pertanian.
Filipina dewasa ini berhasil mengembangkan teknologi bidang pertanian yang mengkombinasi­kan teknologi dan ilmu pengetahuan secara berimbang, khususnya di bidang varietas padi unggul, Manfaat risetnya dibidang pertanian telah merubah Filipina sebagai negara yang pernah swasembada beras.
b.      Bidang Peternakan.
Filipina sedang membudidayakan peternakan udang yang merupakan proyek pengem­bangan perikanan pantai ukuran kecil FAO (Food Agricultural Organization) yang dibiayai PBB (United National Development Program /UNDP) yang berpusat di Manila.
c.       Bidang Energi.
Energi geothermal merupakan potensi besar bagi negara Filipina, hal tersebut telah dibuktikan oleh NSDB anak cabang dari COMVOL 'The Commision On Vulcanology' yang telah mengadakan survey geologi geothermal di Makiling, Tiwi, Laguna, Tongonan Bureau dan Leyte dan telah dimanfaatkan pemerintah dengan kapasitas 446 MW, yang menempatkan Philipina menjadi negara nomor dua di dunia dalam penggunaan tenaga listrik geothermal.
d.      Bidang Industri.
Penelitian dan pengembangan kegiatan dibidang industri di titik beratkan pada pembangunan dan pertumbuhan industri rumah, industri kecil dan menengah.
e.       Bidang Kesehatan.
Dalam upaya meningkatkan kesehatan penduduk pemer­intah telah mengembangkan usaha‑usaha penyelidikan di bidang perbaikan gizi dan penyebab‑penyebab utama penyakit. Dari survey yang telah dilakukan, ditemukan bahwa penyebab utama penyakit di Filipina adalah akibat dari banyaknya indus­tri yang tidak memiliki instalasi pengolahan limbahnya.

f.       Bidang tenaga kerja manusia.
Filipina mempunyai penduduk sekitar 86.5 juta orang, dengan susunan penduduk sekarang adalah 41% golongan anak‑anak, 56% orang dewasa dan 3% orang tua. Dan upaya pemerintah yaitu menunjuk para ahli baik dari Instansi pemerintah maupun swasta untuk kepentingan riset dan teknologi dengan pemberian tunjangan, honor dan insentif serta dibebaskan dari ketentuan‑ketentuan pemerintah mengenai pembatasan pembelian alat‑alat riset serta diijinkan mengik­uti pertemuan‑pertemuan ilmiah di luar negeri.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Filipina memiliki kondisi geografis yang hampir sama dengan Indonesia, sebagai negara kepulauan, beriklim tropis, dan memiliki rangkaian pegunungan. Secara umum, model pertanian di Filipina adalah dengan menggunakan metode SRI dan SALT.

Pemerintah Filipina telah memilih program‑program penelitian yang langsung dapat diterapkan di lapangan, biayanya murah dan sasaran atau hasil teknologi diarahkan ke peningkatan hasil‑hasil produksi pertanian dengan manfaat dapat meningkatkan kesejahteraan petani yang merupakan pekerjaan dan mata pencarian utama masyarakat Fhilipina.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

LAPORAN PRAKTIKUM MANAJEMEN PENYULUHAN PEMBANGUNAN PERTANIAN

    BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Penyuluhan berasal dari kata suluh, berarti  sesuatu yang dinyalakan, seperti lilin, obor yang sifatnya menerangi. Pada hakekatnya menerangi adalah sebuah usaha untuk mengubah sesuatu yang gelap menjadi terang. Usaha mengubah gelap menjadi terang, ketika dianalogikan dengan penyuluhan adalah usaha merubah perilaku individu atau kelompok masyarakat dari ‘kegelapan’ pengetahuan, menjadi pemahaman bagaimana melakukan partisipasi aktif dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.
Usaha mengubah perilaku individu atau masyarakat luas dalam penyuluhan dilakukan dengan pola-pola komunikasi tertentu yang sifatnya mempengaruhi / influence, pola komunikasi demikian dikaterogikan dalam komunikasi persuasif. Komunikasi persuasif pada hakekatnya mempengaruhi sikap, pendapat dan perilaku orang lain melalui kegiatan komunikasi, baik secara verbal maupun non verbal. Menurut ahli komunikasi K.Anderson, komunikasi persuasif didefinisikan sebagai perilaku komunikasi yang mempunyai tujuan mengubah keyakinan, sikap atau perilaku.
Pada saat kita memberikan penyuluhan, kita tidak hanya harus dapat berkomunikasi dengan baik saja, tetapi kita juga harus mempunyai perencanaan program penyuluhan agar penyuluhan yang ingin kita sampaikan sesuai dengan kebutuhan khalayak. Salah satu faktor keberhasilan dalam memberikan penyuluhan adalah dengan adanya proses atau tahapan-tahapan perencanaan program penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan khalayak. Oleh karena itu, sebagai seorang penyuluh sangat dibutuhkan membuat tahapan-tahapan atau proses penyuluhan sebelum terjun langsung ke lapangan.

1.2  Tujuan
Tujuan praktikum yaitu:
a.       Menganalisis karakteristik dan kondisi sosial masyarakat secara umum.
b.      Menggali informasi sebanyak-banyaknya baik kelebihan maupun kekurangan mengenai teknik-teknik penyusunan perencanaan mengenai program penyuluhan.
c.       Mengklasifikasikan model proses perumusan perencanaan program penyuluhan yang digunakan.
1.3  Manfaat
     Manfaat Praktikum yaitu:
a.       Untuk mengetahui karakteristik dan kondisi sosial masyarakat secara umum.
b.      Untuk mengetahui informasi yang sebanyak-banyaknya baik kelebihan maupun kekurangan mengenai teknik-teknik penyusunan perencanaan mengenai program penyuluhan
c.       Untuk mengetahui model proses perumusan perencanaan program penyuluhan yang digunakan 

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

 2.1. Definisi Penyuluhan Secara Umum
            Pengertian penyuluhan dalam arti umum adalah ilmu social yang mempelajari system dan proses perubahan pada individu serta masyarakat agar dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan (Setiana. L. 2005). Penyuluhan dapat dipandang sebagai suatu bentuk pendidikan untuk orang dewasa. Dalam bukunya A.W. van den Ban dkk. (1999) dituliskan bahwa penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa membuat keputusan yang benar.
2.2. Definisi Penyuluhan Berdasarkan  Undang-undang No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian , Perikanan dan Kehutanan ( SP3K)
Penyuluhan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dalam mengakses informasi informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumber daya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi
lingkungan hidup.
2.3. Definisi Penyuluhan menurut Ibrahim, et.al, 2003:1-2
Penyuluhan berasal dari kata “suluh” yang berarti “obor” atau “pelita” atau “yang memberi terang”. Dengan penyuluhan diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap. Pengetahuan dikatakan meningkat bila terjadi perubahan dari tidak tahu menjadi tahu dan yang sudah tahu menjadi lebih tahu. Keterampilan dikatakan meningkat bila terjadi perubahan dari yang tidak mampu menjadi mampu melakukan suatu pekerjaan yang bermanfaat. Sikap dikatakan meningkat, bila terjadi perubahandari yang tidak mau menjadi mau memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang diciptakan. (Source: Ibrahim, et.al, 2003:1-2).


BAB III
METODE PRAKTIK

3.1 Waktu dan Pelaksanaan Praktik
Waktu pelaksanaan praktek Manajemen Penyuluhan Pembangunan Pertanian yaitu pada tanggal 04 Oktober 2016, dimulai dari pukul 09.00 sampai selesai di DesaAlebo, Kecamatan Konda, ,Kabupaten Konawe Selatan.
3.2 Teknik Penentuan Responden
      Teknik penentuan Responden yang dilakukan adalah dengan cara memilih responden yang bertempat tinggal di Desa Alebo, juga yang menjadi binaan seorang penyuluh atau BP3K di Kec. Konda.
3.3 Variabel Yang Diamati
                Adapun yang menjadi sasaran kegiatan  dari praktikum ini yaitu Sasaran darikegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh seorang  penyuluh sampai sekarang  yaitu sasaran kegiatan pemberdayaan GAPOKTAN, yakni masyarakat sekitar DesaAlebo, dalam hal ini petani.
                Kegiatan yang dilakukan yaitu membina kelompok-kelompok tani guna untuk memfasilitasi dari kebutuhan masing-masing dari kelompok tani tersebut. Kegiatan penyuluhan ini dilakukan tidak lain adalah guna untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitar dan juga menambah kualitas hidup menuju yang lebih baik lagi.Kegiatan yang dilaksanakan diantaranya pengadaan bibit dan pengadaan pupuk organik. Akan tetapi kegiatan pengadaan bibit dan pengadaan pupuk organik tidak terlakasana dengan baik selain itu pengadaan kedua program tersebut tidak lagi berjalan sampai sekarang .Di desa Alebo lebih di dominasi oleh lahan kering sehingga petani lebih banyak untuk menanam tanaman perkebunan, jagung, kacang tanah dan tanaman holtikultura diwaktu musim penghujan.
                Program yang di jalankan oleh penyuluh di Desa Alebo  sesuai dengan program nasional yang memiliki 9 (sembilan) indikator. Dari kesembilan indikator tersebut ada beberapa indikator yang di laksanakan yaitu:Penyuluhan untuk mensejahterahkan masyarakat, Meningkatkan pendapatan, Perkembangan atau peningkatan kualitas hidup masyarakat petani.Selain program nasional ada pula program yang rutin di laksanakan guna menyadarkan atau mengajak masyrakat untuk bertani. Untuk seminggu sekali penyuluh rutin mengadakan pertemuan antara berbagai kelompok tani dalam mengontrol masyarakat petani dengan progaram penyuluh yang sesuai dengan kegiatan petani.Penyuluh tidak semata-mata melaksanakan program begitu saja tetapi ada kerja sama oleh pemerintah provinsi ataupun pemerintah setempat. Di Desa Alebo ada 1 penyuluh, yakni penyuluh praktek lapangan, dan terdiri dari 7 kelompok tani.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

            Dalam pengumpulan data, penelitian ini menggunakan metode:
  1. Metode wawancara, yaitu pengumpulan data melalui wawancara langsung dengan para informan yang terdiri dari masyarakat tani itu sendiri dankepalaDesa Alebo Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan.
  2. Metode kuisioner, yaitu pengumpulan data melaluimemberikan pertanyaan langsung kepada informan yang terdiri dari masyarakat petani itu sendiri dan kepala  Desa Alebo Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan.

3.5 Analisis Data
                Dari hasil data yang kami perolehdianalisisbahwa di Desa Alebo hanya terdapat 1 (satu) orang penyuluh saja,kegiatan penyuluhan di DesaAlebo initidak terlalu sulit, karena mayarakat petani sudah memiliki pemahaman dalam hal bertani.  Di Desa Alebo terdapat banyak lokasi lahan penanaman palawija, lahan perkebunan dan tanaman holtikultura diwaktu penghujan, jadi penyuluh di Desa Alebo hanya memberikan sedikit arahan atau petunjuk tentang pertanian, misalnya pada saat turun di lapangan hanya mengawasi atau mengontrol kegiatan tersebut. Namun yang menjadi kendala atau masalah yang dirasakan petani yaitu tidak adanya subsidi bibit dan pupuk serta masalah pengairan lahan perkebunan diwaktu musim kemarau. Masyarakat petani mengadakan bibit dan pupuk dengan membeli di pasar-pasar terdekat itu pun belum menjamin mutu dan kualitasnya. padahal yang menjadi program sasaran dari penyuluh yaitu progaram GAPOKTAN , program pemberdayaan masyrakat petani, program pengadaan bibit dan pengadaan pupuk organik. Sasaran darikegiatan penyuluhan yang dilakukanolehseorang penyuluhyaitu masyarakat sekitarDesaAlebo itu sendiri, dalam hal ini petani.
                Kegiatan yang dilakukan yaitu membina kelompok-kelompok tani guna untuk memfasilitasi dari kebutuhan masing-masing dari kelompok tani tersebut. Kegiatan penyuluhan ini dilakukan tidak lain adalah guna untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar dan juga menambah kualitas hidup menuju yang lebih baik lagi.Program yang di jalankan oleh penyuluh di Desa Alebo sesuai dengan program nasional yang memiliki 9 (sembilan) indikator. Dari kesembilan indikator tersebut ada beberapa indikator yang di laksanakan yaitu:Penyuluh untuk mensejahterahkan masyarakat, Meningkatkan pendapatan, Perkembangan atau peningkatan kualitas hidup masyarakat petani. Sedangkan untuk metode penyuluhan yang digunakan adalah menggunakan metode PPL.
                Menurut kami metodesangat tepatdigunakankarenadengan adanya metode tersebut masyarakat petani bisa langsung turun langsung lapangan dengan adanya binaan dari seorang penyuluh ataupun PPL. Namun program yang dilaksanakan tidak sesuai dengan apa yang direncanakan.Penyuluh tidak semata-mata melaksanakan program begitu saja tetapi ada kerja sama oleh pemerintah provinsi ataupun pemerintah setempat. Di Desa Alebo ada 1 penyuluh, yakni penyuluh praktek lapangan, dan terdiri dari 7 kelompok tani.
            Menurut keterangan dari masyarakat yang ada di Desa Alebo Kec. Konda, bahwa metode penyuluhan yang digunakan adalah menggunakan metode pendekatan secara individual. Beliau bertutur bahwa dengan cara face to face penyuluh dapat bertatap muka secara langsung dengan para petani dan juga dapat menjalin silaturrahim guna dapat mengambil hati para petani juga. Beliau juga mengatakan bahwa jika menggunakan pendekatan dengan  metode kelompok dan massal kurang efektif karena yang menjadi persoalan adalah waktu. Karena para petani sibuk akan pekerjaannya masing-masing sehingga petani harus berpikir dua kali untuk mempertimbangkan apakah akan mengikuti atau tidak

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Praktik
 4.1.1 Gambaran Umum Desa Alebo
Ø  Topografi
Letak dan batas wilayah
         Luas Desa Alebo 328 ha Desa Alebo berada 5 km dari ibu kota Kecamatan Konda.
Batas wilayah
- Sebelah utara berbatasan dengan desa Moronge
- Sebelah selatan dan barat berbatasan dengan hutan lindung
- Sebelah timur berbatasan dengan kelurahan Konda
Ø  Keadaan Agroklimat
Keadaan tanah/iklim
         Keadaan iklim di wilayah desa Alebo memiliki dua musim yaitu musim penghujan yakni bulan januari sampai dengan juni dan musim kemarau pada bulan juli sampai desember dengan suhu 24-30 c. Keadan curah hujan tidak merata antara desa yang satu dengan desa yang lainnya, hal ini menimbulkan daerah basa dan daerah kering.
Ø  Keadaan wilayah
         Sumber daya alam pada desa ini sangant potensial untuk mengembangkan komoditas sektor pertanian dalam arti luas, kebun, dan ternak.
      4.1.2 Karakteristik Responden
1.      Nama responden yang kami wawancarai adalah Bapak Fadli yang berusia 55 tahun dan mempunyai istri yang bernama Muslihati yang berusia 45 tahun, beliau memiliki 2 orang anak. sejak 30 tahun yang lalu beliau  sudah memulai bertani, selain bertani beliau juga memiki hewan ternak berupa sapi, disela waktu kosongnya pak fadli biasanya mencari rumput untuk hewan ternaknya di sekitar ranomeeto bahkan sampai ke wolasi. Tanaman yaang di budidayakan pak fadli yaitu tanaman jagung, hasil panen yang biasa di dapatkan dalam ¼ ha bisa mencapai 4 juta sekali panen untuk komoditi jagung yang di jual ke tengkulak. Kendala yang biasa bapak fadli rasakan yaitu kurangnya pengairan pada saat musim kemarau.
2.      Nama responden kami yang kami wawancarai adalah bapak eman merupakan bapak dari 3 anak yang memeliki istri yang bernama sumalini. Keluarga mereka adalah penduduk transmigrasi dari jawa, beliau telah menetap di desa alebo sejak tahun 70-an , pekerjaan utama beliau yaitu sebagai petani padi sawah. Dari penghasilannya sebagai petani padi sawah beliau harus menghidupi ketiga buah hatinya yang sebagian masih bersekolah. Walaupun bapak eman hanya lulusan smp, pak eman tetap mengutamakan pendidikan bagi anak-anaknya.  Anak pertama pak eman berumur 23 tahun dan telah menyelesaikan studinya di kampus avicena , anak kedua  beliau masih duduk di bangku smp, dan anak terakhir masih duduk di bangku sd.   
3.      Nama responden kami selanjutnya yaitu bapak amir, yang bersuku muna, beliau berumur 47 tahun dan memiliki istri yang bernama nurmiati yang berusia 40 tahun dan pendidikan terakhir yaitu sma. pekerjaan utama beliau adalah petani sawah yang memiliki lahan sawah 2 ha. beliau memulai bertani sejak tahun 90-an. Dan memiliki 3 buah hati, dan dari hasil bertani itulah beliau menghidupi anggota keluarganya. Selain itu beliau juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai tukang batu.
4.      Nama responden kami yaitu bapak ibrahim, berusia 50 tahun yang memiliki istri yang bernama yusnarsih yang berusia 47 tahun yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga , dan bapak Ibrahim sebagai petani padi sawah , yang telah bertani sekitar 30 tahun. Pendidikan terakhir beliau adalah sma.  Dalam rumah tanggannya beliau di karuniai 2 buah hati yang keduanya masih duduk di bangku sma.


4.2 Pembahasan
      4.2.1 Karakteristik dan kondisi sosial masyarakat secara umum
Kondisi sosial Secara umum, dalam kehidupan masyarakat di Desa alebo adalah :
1.      Sistem kehidupan yang ada pada umumnya berkelompok dan dasar kekeluargaan,Masyarakat bersifat homogen (seragam), sepertidalam hal mata pencaharian, agama, tata pengaturan sosial, dan adat istiadat.    Hubungan antar warga desa terjalin lebih mendalam dan erat bila di bandingkan dengan hubungan mereka dengan masyarakat lainnya diluar batas wilayah desanya.  Mata pencaharian utama penduduk umumnya adalah bertani..         Kehidupan di desa lebih menekankan anggota keluarga sebagai unit ekonomi. Artinya semua anggota keluarga turut bersama terlibat dalam kegiatan mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga.Kontrol social ditentukan oleh nilai moral dan hukum yang ada,    Penduduk desa kebanyakan berpendidikan rendah.

               
4.2.2 Teknik-teknik penyusunan perencanaan program penyuluhan
            Berdasarkan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian , Perikanan dan Kehutanan ( SP3K ) pada Bab VII Pasal 23 menyebutkan bahwa Perencanaan Program Penyuluhan dimaksudkan untuk memberikan arah, pedoman, dan alat pengendali pencapaian tujuan penyelenggaraan penyuluhan . Perencanaan Program Penyuluhan terdiri atas program penyuluhan desa/kelurahan atau unit kerja lapangan, program  penyuluhan kecamatan, program penyuluhan kabupaten/kota, program penyuluhan provinsi, dan program penyuluhan nasional, yang disusun dengan memperhatikan keterpaduan, dan kesinergian program pada setiap tingkatan sebagaimana tersebut diatas. Sedangkan keterpaduan dimaksudkan bahwa perencanaan program penyuluhan pertanian disusun dengan memperhatikan program penyuluhan tingkat kecamatan, tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi dan tingkat nasional, kalau kesinergian dimaksudkan bahwa perencanaan program penyuluhan pertanian pada tiap tingkatan mempunyai hubungan yang bersifat saling mendukung, sehingga semua program penyuluhan pertanian selaras dan tidak bertentangan antara program penyuluhan pertanian dalam berbagai tingkatan.Program penyuluhan disusun setiap tahun yang memuat rencana penyuluhan tahun berikutnya dengan memperhatikan siklus anggaran masing-masing tingkatan yang mencakup pengorganisasian dan pengelolaan sumber daya sebagai dasar pelaksanaan penyuluhan yang dalam implementasinya harus terukur, realistis, bermanfaat, dan dapat dilaksanakan serta dilakukan secara partisipatif, terpadu, transparan, demokratis dan bertanggunggugat.
            Keputusan yang diambil pada perencanaan program harus mengandung
pengetahuan yang tepat di masa yang akan datang. Hal inilah yang membedakan
perencanaan dengan peramalan. Perencanaan harus dapat mengukur hasil-hasil
yang dicapai berdasarkan pengetahuan yang tepat tentang kondisi masyarakat.
Oleh karenanya beberapa pokok pikiran yang perlu diperhatikan dalam
perencanaan program penyuluhan:                                                                             
1.      Merupakan suatu proses yang berkelanjutan. Rangkaian pengambilan keputusandalam perencanaan program tidak pernah berhenti sampai tercapainya tujuan(kebutuhan, keinginan, minat) yang dikehendaki.
2.      Proses pengambilan keputusan tersebut berdasarkan fakta dan sumber daya yang ada.
      3.   Dirumuskan secara bersama oleh penyuluh dengan masyarakat sasarannya,
dengan didukung oleh para spesialis, praktisi dan penentu kebijaksanaan.
4.   Meliputi perumusan tentang: keadaan, masalah, tujuan, dan cara pencapaian tujuan, yang dinyatakan secara tertulis.
      5.   Harus mencerminkan perubahan ke arah kemajuan
            Namun dalam implementasinya selama ini masih menghadapi berbagai permasalahan yang berkaitan dengan programa penyuluhan pertanian, yang antara lain sebagai berikut:
1.      Belum terlasananya perencanaan programa penyuluhan pertanian di desa Alebo.
2.      Program penyuluhan pertanian kurang mendapat dukungan dari dinas/instansi        Terkait.
3.      Penyusunan program penyuluhan pertanian masih didominasi oleh        penyuluh/petugas (kurang partisipatif)
4.      Penyusunan program penyuluhan belum sepenuhnya mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian nomor :25/Permentan/OT.140/5/2009 tentang Pedoman       Penyusunan Program Penyuluhan Pertanian.
Di lain pihak dengan berlakunya Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, maka melalui penyusunan program penyuluhan pertanian diharapkan dapat menghasilkan kegiatan penyuluhan pertanian spesifik lokalita yang strategis dan mempunyai daya ungkit yang tinggi terhadap peningkatan produktivitas komoditas unggulan daerah dan pendapatan petani sehingga tercapai apa yang kita inginkan bersama yaitu meningkatnya kesejahteraan petani


      4.2.3 Model proses perumusan perencanaan program penyuluhan
           
     Ada beberapa model proses penyusunan program penyuluhan yang digunakan, yaitu :
1.      Model Proses Penyusunan Program Penyuluhan berupa model instruksional yang memuat komponen-komponen situasi, masalah, tujuan, dan cara untuk mencapai tujuan (S-M-T-C).Secara rinci model proses penyusunan program penyuluhan ini menggambarkan kegiatan penyuluhan, yaitu perumusan keadaan dan masalahnya, pemecahan masalah dan tujuan, perencanaan pendidikan, Evaluasi dan rekomendasi.
             Mengutip dari model pross penyusunan program penyuluhan, lima langkah dalam proses perencanaan program penyuluhan itu dapat diuraikan sebagai berikut:


a)      Perumusan keadaan dan masalahnya.
            Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap situasi. Untuk itu diperlukan fakta-fakta yang menyangkut seluruh aspek dari situasi dalam jumlah yang besar. lnformasi yang diperlukan adalah berkaitan dengan sasaran penyuluhan seperti minat, pendidikan, kebutuhan, adat-istiadat, kebiasaan dan tradisinya. Kemudian diperlukan pula fakta mengenai situasi fisik seperti keadaan tanah, tipe usahatani, pemasaran, skala usahatani, pola tanah, kondisi rumah, pelayanan masyarakat, dan saluran komunikasi.
b)      Pemecahan masalah dan tujuan.
            Pada tahap kedua ini, pemecahan masalah dan perumusan tujuan ditetapkan. Untuk kepentingan psikologis sasaran penyuluhan itu harus dilibatkan dalam penetapan tujuan dan sasaran penyuluhan. Sasaran dalam perencanaan penyuluhan paling tidak harus mengkondisikan perubahan perilaku orang sebagaimana keluaran sosial maupun ekonoini yang diinginkan.
c)      Perencanaan pendidikan.
            Pada tahap yang ketiga ini merupakan tahap mengajar yang meliputi, Mated yang perlu diajarkan dan cara yang harus dilakukan untuk mengajar.
d)     Evaluasi.
            Tahap keempat ini adalah mengevaluasi tindakan mengajar tersebut. Hal ini juga akan menjadi ujian mengenai cara yang secara akurat dan jelas tujuan dipilih dan dikondisikan. Perencanaan untuk evaluasi perlu dibangun menjadi perencanaan kerja selama tahap-tahap sebelumnya. Perbedaan dibuat antara prestasi yang hanya dicatat saja dan perbandingan hasil dengan tujuan asli. Proses evaluasi dapat dilakukan secara sederhana dan informal atau dapat pula secara formal dan kompleks.
e)      Rekonsiderasi.
            Tahap kelima adalah mempertimbangkan perencanaan penyuluhan setelah evaluasi dilakukan. Tahap ini memuat suatu tinjauan upaya-upaya yang dilakukan sebelumnya dan hasil-hasil yang menampakkan situasi baru. Apabila situasi baru menunjukkan kebutuhan akan kegiatan lebih lanjut, selanjutnya proses keseluruhan akan dimulai lagi dengan tujuan baru maupun tujuan yang dimodifikasi, maka proses tersebut akan bersambung.
2.      Model Proses Penyusunan Program Penyuluhan berdasarkan kegiatan penyuluhan sebagai suatu siklus yang terdiri atas tujuh tahapan, yaitu (1) analisis situasi, (2) organisasi perencanaan, (3) proses perencanaan program, (4) program yang telah direncanakan, (5) rencana kerja, (6) pelaksanaan rencana kerja, dan (7) evaluasi.
3.      Model Proses Penyusunan Program Penyuluhan berdasarkan atas kenyataan yang terjadi di lapangan. Terdiri atas sembilan tahapan, yaitu (1) survai, (2) analisis situasi, (3) identifikasi masalah, (4) penetapan aUfirnatif pemecahan masalah, (5) penentuan tujuan dan ruang lingkup peTmasalahan, (6) penyusunan rencana kerja, (7) pelaksanaan rencana kerja, (8) evaluasi, dan (9) rekonsiderasi.
4.      Model Proses Penyusunan Program Penyuluhan beerdasarkan tahapan kegiatan yang berupa suatu siklus. Lima tahapan ini adalah (1) 'dentifikasi masalah, (2) penentuan tujuan, (3) pe-ngembangan rencana kerja, (4) penetapan rencana kerja, dan (5) penentuan kemajuan.
5.      Model Proses Penyusunan Program Penyuluhan berdasarkan area kegiatan
             Model ini dibedakan ke dalam dua area kegiatan, yaitu area perencanaan program, yang terdiri atas empat tahap kegiatan, yakni (1) pengumpulan fakta, (2) analisis situasi, (3) identifikasi masalah, dan (4) penetapan tujuan. Dalam pada itu area pelaksanaan program, meliputi (5) penyusunan rencana kerja, (6) pelaksanaan rencana kerja, dan (7) .penentuan kemajuan. Kegiatan (8) rekonsiderasi merupakan tahap antara yang menghubungkan area kegiatan perencanaan dan area kegiatan pelaksanaan program.


BAB V
 PENUTUP
5.1 Kesimpulan
            Potensi pertanian di desa alebo yang cukup besar dapat berkembang apabila di tunjang dengan program dan metode penyuluhan yang tepat dan sesuai bagi kebutuhan masyarakat, dan masalah-masalah yang di hadapi harus di carikan jalan kelurnya.
Saran
            Saran kepada pemerintah agar permasalahan seperti distribusi pupuk yang tidak ada, bendungan yang belum permanen, dan penyedian varietas benih unggul segera di carikan solusi sehingga produktitas juga jadi maksimal.
Kami sangat membutuhkan Saran dan Kritik dari teman-teman dalam hal kesempurnaan laporan ini yang dapat bermanfaat bagi kita semua dimasa sekarang dan akan datang.

DAFTAR PUSTAKA


Rejeki, Ninik Sri. 1998. PerencanaanProgram Penyuluhan :TeoridanPraktek.         Yogyakarta :UniversitasAtma Jaya.
Mardikanto, Totok. 1992. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Surakarta:
            Universitas Sebelas Maret.
Slamet, Margono. 1978. Kumpulan Bacaan Penyuluhan Pertanian Bogor. Institut
            Pertanian Bogor.
Suriatna, S. 1973. Membina Penyuluhan Pertanian. NAEP. Departemen Pertanian.             Jakarta.
Asngari, P. 2005. Perencanaan Program Penyuluhan. IPB.
Departemen Pertaniaan. 2003. Metode Penyuluhan Pertanian. Pusluhtan.
Permentan Nomor 52 tentang Metode Penyuluhan Pertanian tahun 2010 Maret.
Slamet, Margono. 1978. Kumpulan Bacaan Penyuluhan Pertanian Bogor. Institut
            Pertanian Bogor.
Suriatna, S. 1973. Membina Penyuluhan Pertanian. NAEP. Departemen Pertanian.             Jakarta.
Asngari, P. 2005. Perencanaan Program Penyuluhan. IPB.
Departemen Pertaniaan. 2003. Metode Penyuluhan Pertanian. Pusluhtan.
Permentan Nomor 52 tentang Metode Penyuluhan Pertanian tahun 2010.










  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS